Saat hari wisuda tiba, ayahnya memberi hadiah bingkisan yang segera dibukanya dengan harap-harap cemas. Ternyata isinya adalah sebuah kitab suci di bingkai kotak kayu berukir indah. Walaupun mengucap terima kasih tetapi hatinya sungguh kecewa. “Bukannya aku tidak menghargai hadiah dari ayah, tetapi alangkah senangnya bila isi kotak itu adalah kunci mobil,” ucapnya dalam hati sambil menaruh kitab suci kembali ke kotaknya. Waktu berlalu dengan cepat, si anak diterima kerja di kota besar. Si ayah pun sendiri dalam kesepian. Karena usia tua dan sakit-sakitan, tak lama si ayah meninggal dunia tanpa sempat meninggalkan pesan kepada putranya. Setelah masa berkabung selesai, saat sedang membereskan barang-barang, mata si anak terpaku melihat kotak kayu hadiah wisudanya yang tergeletak berdebu di pojok lemari. Dia teringat itu hadiah ayahnya saat wisuda yang diabaikannya. Perlahan dibersihkannya kotak penutup, dan untuk pertama kalinya kitab suci hadiah pemberian si ayah dibacanya. Saat membaca, tiba-tiba sehelai kertas terjatuh dari selipan kitab suci. Alangkah terkejutnya dia. Ternyata isinya selembar cek dengan nominal sebesar harga mobil yang diinginkan dan tertera tanggalnya persis pada hari wisudanya. Sambil berlinang airmata, dia pun tersadar.
Terjawab sudah, kenapa mobil kesayangan ayahnya dijual. Ternyata untuk menggenapi harga mobil yang hendak dihadiahkan kepadanya di hari wisuda. Segera ia pun bersimpuh dengan memanjatkan doa, Ayah maafkan anakmu yang tidak menghargai hadiahmu

















Seorang cowok berkulit kuning langsat, berkacamata minus, dan doyan makan coto makassar ini asli dari kota Pahlawan - Arek Suroboyo.

20 January 2007 pukul 11:24 pm
duh, bagus banget ceritanya…
wah aku dikasih do’a sama ortu aja udah merasa bersyukur, hehehe
21 January 2007 pukul 12:12 am
begitulah seorang anak…!! yg kadang2 ketika menginginkan sesuatu itu harus dipenuhi dan ketika menerima sesuatu dari orang tua yang tidak sesuai dengan harapannya…. dengan serta merta mengeluh, kesal, sebel tanpa pernah bertanya atau memahami maksud dari orang tua kita. semoga kita tidak termasuk anak yang durhaka (na’udzubillah) dan smoga kita mendapat hikmah dari cerita tersebut.
21 January 2007 pukul 12:46 am
iya betul, mungkin karena jarak usia yang jauh itu membuat anak bersikap impulsif shg telat memahami maksud orang tua:( mengedepankan husnudzon dan lapang dada napa ya.. akhirnya tinggal sesak didada deh kalo dah kayak gitu.. semoga jadi jalan mendoakan lebih tulus pd orgtuanya yah..
21 January 2007 pukul 1:48 am
Yang lebih parah malah kadang-kadang Qta gak pernah nyadar kalo setelah semua diberikan buat Qta, Qta malah ngerasa masih kurang, minta lebih.. Padahal apa yang pernah Qta kasih ke mereka masih gak seberapa ;p
21 January 2007 pukul 2:03 am
aduh anak jaman sekarang gak berpikir dlu selalu berpikir negatip. jadinya apa yg seharusnya baik malah gak dihargai dan dibuang jauh2. penyesalanpun datengnya selalu terakhir kenapa gak awal2 c?
21 January 2007 pukul 8:28 am
Mudah-mudahan saya nggak mengikuti cara si Ayah. Pan tinggal nanya, telpon ato anaknya disindir, diajak bergurau dst … Untuk find out itu cek udah dipake ato belum ….
21 January 2007 pukul 10:36 pm
Nice story…
dapet darimana, mpluk?
22 January 2007 pukul 12:08 am
ada kesan lack of communication juga yah..
kenapa juga tuh anak bukannya ngasih bapaknya apaaa, gitu ya… Ckckck… :p
22 January 2007 pukul 12:23 am
waduh jadi terharu nih, si ayah pasti punya harapan besar dalam hadiahnya itu, siapapun dia bener atau nggak ceritanya smoga ayahnya diberkahi, termasuk kekasih Allah
22 January 2007 pukul 2:45 am
ini pengalaman pribadi, kutipan , ato karangan sendiri ya ?
hehehe….
cukup bagus sih, tapi adakah kisah nyata yang kayak gitu???
22 January 2007 pukul 8:12 am
cerita yang bagus!!! siip deh
10 February 2007 pukul 10:29 pm
kalao ortu masih hidup, kadang kita ‘lupa’ sama dia. maunya nuntutnya banyak aja. coba kalau mereka sudah nggak ada. wah … baru berasa deh.